Oleh: WN
“kudapati tudung saji itu kosong, hanya setongkol jagung yang tersisa di pawon.
Kugali tanah untuk mencari umbi, agar mereka bisa makan, agar mereka tidak kelaparan.
Ada apa dengan tanah ini?, yang katanya gemar ripah loh jinawi. Tidak menyisakan sebutir padi untuk kami”
-WN-
Hari ini mungkin akan sulit menemui orang seperti kami, yang rela
menukar tanah dengan sekarung gabah, rela menjadi kuli seharian untuk
beberapa ubi yang bisa kami bawa pulang.
Kini sudah banyak anak yang menampik makanan yang diberikan orangtuanya karena alasan selera.
Zamanku kami tidak mengenal selera, apa yang bisa dikunyah dan ditelan itu kami anggap sebagai makanan...
Aku sudah hidup cukup lama, dan mengembara keberbagai tempat, untuk
melihatmu yang kini hidup cukup. Hampir tidak ada malaria, penyakit
polio juga jarang kutemui di kunjunganku di pelosok kini. Anak-anak
tidak lagi menghunus golok dan pacul, mereka semua kini membawa yang
menjadi impian generasiku. Ilmu dari guru, dan bacaan dari buku.
Aku sudah hidup lama, jauh lebih lama dari kalian sekarang, sudah
kudatangi tempat satu dan lainya, melewati batas ruang dan waktu yang
tidak akan kalian bayangkan.
Namaku frans.. keren kan? Nama itu diberikan seorang yang membantu emak
bersalin dulu. Aku dilahirkan sebagai anak pribumi yang memetik cengkeh
dan karet di perkampungan kaki gunung.
Emak melahirkanku di tengah pasar, saat emak sedang berusaha mencari
pedagang yang mau menukar sesisir pisang dengan sekantung tepung. emak
menahan sakitnya saat akan melahirkan sampai emak ditemukan oleh seorang
misionaris dan membantu persalinanya. Emak dibawa di salah satu los
pasar itu, dan dengan seadanya aku lahir.. maksudku bukan aku, melainkan
kembaranku yang pernah hidup secara nyata. sebenarnya aku tidak pernah
benar-benar hidup, aku hanya bentuk lain darinya.. kamu taukan
maksudku... dan sesaat setelah aku lahir, nama itu disematkan padaku..
Frans.. emak langsung setuju tanpa tau nama itu, dia berpikir namaku ini
seperti nama meener-meneer yang menjadi mandor di kebun cengkeh dan
karet, tempat keluargaku bekerja.
Sudah lama sekali sejak itu, sejak aku memilih untuk tetap tinggal
disini, diriku yang lahir tadi sudah lama mati, dan ke alam yang
seharusnya. mungkin aku tadi seumuran dengan eyang buyut kalian. Atau
mungkin lebih tua..
Banyak gejolak yang tidak kupahami, setelah apa yang dulu susah payah
kami capai kini dengan mudah kalian lupakan, kalian dustakan dan kalian
jadikan bahan olokan..
Aku mengembara lagi, kemana dulu aku masih bersamanya..”aku” yang sebenarnya masih hidup..
Frans remaja memiliki 3 orang adik, kesemuanya bekerja membantu emak dan
bapak di perkebunan.. kuingat waktu itu saat kami haus setelah lelah di
kebun, biasa kami curi pohon pisang, kami tebang dan kami peras airnya
untuk minum.. irisan dari pohon itu kami bawa pulang, untunk direbus dan
dimakan, tidak pasti menu makan keluargaku kala itu. Jika kurang
beruntung kami tidak makan sama sekali, dan memilih berpuasa.. jika
sedikit beruntung kami bisa makan singkong, ubi ataupun talas yang kami
temukan di hutan, dan jika keberuntungan kami berlebih maka ayam hutan
yang biasa kami lihat di antara pepohonan juga kami bisa tertangkap
untuk di panggang dirumah.
Aku sedang duduk di
lincak bersama bapak, lincak adalah sebuah
kursi panjang yang terbuat dari bambu. Hari itu sudah malam, angin
berhembus membuat pepohonan disekitar rumah kami yang sebenarnya lebih
mirip gubug itu ikut bergoyang seirama gerakan angin.
Sebuah pijaran cahaya dari
senthir yang disulut bapak membuat
pelita ini menerangi rumah kami yang alakadarnya. Pelajaran membaca ya..
bapaku adalah orang yang melek huruf.. mungkin bapaku adalah orang yang
paling pintar didaerahku waktu itu, dia tau huruf latin, dia tau huruf
arab, entah dimana dia belajar tapi apa yang sudah dia pelajari dia mau
tularkan padaku.
Dengan telaten satu persatu alfabet itu diajarkan padaku, bagaimana
bunyi dan pengucapanya, bagaimana cara merangkai beberapa huruf untuk
menjadi kata, bagaimana membuat beberapa kata untuk menjadi paragraf,
tanda baca apa yang digunakan agar layak huruf itu dibaca semuanya
diajarkan oleh bapak dengan sabar dan telaten....
--
Semua berjalan begitu cepat, lintasan takdir kulalui, kuingat saat
pelajaran bilangan dan dan tanggal belum diajarkan padaku, aku bahkan
tidakmengenal konsep tahun, tapi kuketahui semuanya ternyata saatlatar
itu kulihat adalah di tahun 1902.. semakin hari aku semakin paham apa
yang diajarkan bapak membuat mataku selama ini seolah tertutup. Kini
kutahu ada dunia diluar sana, ada pemandangan lain selain pohon, hutan
dan binatang buas.
Aku sangat suka bilangan, bapak mengajariku apa itu angka dan bagaimana
mengolahnya, seperti berhasil meraih sesuatu saat bapak memberikan
pertanyaan 20 + 17 dan aku bisa jawab itu dengan benar, aku tertarik
sekali, setiap hari selepas bekerja kutarik tangan bapak untuk mengajari
hal baru yang belum kuketahui. Tapi malam itu bapak menggeleng...
“nak,Cuma itu yang bisa bapak ajarkan kekamu, selain itu kamu harus cari tau sendiri”
Seolah kalimat itu membuatku kecewa, begitu banyak hal yang ingin aku
tau, tapi apa daya.. aku bukan anak bupati, aku bukan anak pejabat
pemerintahan, aku bukan anak mandor.. hanya anak kuli, anak dari kuli
yang bisa membaca dan menghitung sampa dari 1- 100.
Kulalui hari dengan biasa, jika musim cengkeh maka kupertik cengkeh,
jika tidak musim maka menjadi penyadap getah karet adalah pilihan lain,
biasa kudapatkan beberapa sen dari uang upahku. Sesekali kupergi kekota,
membeli beberapa buku untuk kubaca. Dan semakin banyak yang kubaca
semakin bingung aku, bahwa sekarang dunia sedang perang, bahwa peluru
dan rudal sedang memenuhi angkasa eropa dan asia raya.. apa yang
terjadi? Kupikir hanya disini peluru-peluru itu menembus tubuh para
pemberontak yang melawan penguasa..aku bingung, dan kutanyakan kepada
bapak saat semua adikku sedang tidur..
Dan tidak kusangka apa yang kudengar ini, tidak mungkin.. ternyata kami
sedang dipermainkan, pemonopolian kulit putih yang membuatku tidak bisa
belajar, mereka sengaja membuat kami bodoh agar mau dan selalu menjadi
kuli angkut dan kuli petik..
Aku mengepal tangan dengan geram setelah mendengar cerita dari bapak.bukankah itu sebuah ketidak adilan?
Bapak hanya mengangguk, tubuhnya yang tidak kuat karena sakit membuatnya
mengurungkan niat ikut melawan, dia lebih memilih
melindungiku,melindungi emak, dan ketiga adiku...
“pak, aku mau melawan mereka pak!” begitu kataku dengan yakin kepada bapak..
“Angkat bukumu nak” hanya itu yang dikatakan bapak.
Kuturuti perintah bapak, dengan mengambil buku usang yang terbuat dari
kertas merang itu. Disitu sering kuhabiskan jelaga untuk menulis
kegundahanku...
“memang kamu harus melawan, tapi jangan buat nyawamu melayang. Kamu
harus rela berkorban, tapi jangan mau jadi korban, makanya kamu tidak
boleh bodoh. Tidak hanya bedil yang bisa membebaskan kita, tapi ilmu dan
sumberdaya pikirmu bisa membuat semua bebas.. jika mau melawan pergilah
dari sini, dan jangan biarkan anak ayam mati dalam lumbung”
Begitu kata bapak sambil memegang pundaku, semua dia ucapkan dengan yakin. Di remang api kecil dari
senthir yang membuat suasana dirumahku terterangi dengan redup...
---
Semua kulalui tanpa terasa, sebelum ini aku adalah pemuda kampung
pemetik cengkeh, tapi setelah malam itu berbekal beberapa gulden dan
sedikit sen dari uang bekal tabungan bapak aku berangkat.. aku di
Soerabaja. Di sebuah kantor pemerintahan aku bekerja, mulanya sebagai
pekathik, atau tukang rawat kuda, beberapa tahun disana dan beberapa
mengenalku dan tau bahwa aku bisa baca tulis membuatku beralih menjadi
salah satu juru tulis disana..
Bukan main senangnya aku mendapat kesempatan memainkan jariku diatas
mesin mekanik yang membuatku tidak perlu repot mencari jelaga untuk
menulis. Disitu aku mempelajari mereka, tingkah mereka, maksudku mereka
si kulit putih yang sudah memeras kami cukup lama. sesekali kucuri waktu
untuk membuat tulisan protes atas ketidak adilan mereka, kusebar
tulisan itu ke jalan dan dinding kota ini...
Lambat laun tulisanku mulai dibaca banyak orang, publik mengenalku dengan nama Volk yang kutulis diakhir paragraf.
Para orang kulit putih mulai geram menganggap tulisanku menyulut pemberontakan kaum pribumi yanglebih masif..
Mereka mencari siapa si volk yang sudah kurang ajar menurut mereka,
kucuri dengar saat petinggi-petinggi itu hendak melakukan penyergapan di
malam hari dibeberapa sudut kota, dari situ aku tau waktu yang tepat
dan aman untuk beraksi.. kukorbankan uangku untuk membeli kertas, karena
jika kugunakan kertas kantor secara berlebih mereka akan curiga,
kuamati apa yang menjadi rencana mereka dan kutulis dengan tulisan
kapital agar semua orang jangan mau dibodohi..
Aku tertawa puas melihat mereka mulai menghadapi gempuran demi gempuran
dan membuat sistem politik mereka tidak stabil di suoerabaja. Mereka
tidak sadar jika akulah Volk yang merongrong mereka dari dalam...
---
Seperti bajing yang pintar melompat, akhirnya jatuh juga.. dan seperti
aku yang kupikir sudah cukup lihai bersembunyi di sarang mereka sendiri.
akhirnya tertangkap setelah seluruh pekerja digeledah dan mereka
menemukan tulisanku yang sudah tercetak dan siap disebar..
Pukulan dan cacian mereka lancarkan setelah mengetahui siapa aku,orang
yang dipercaya mereka untuk menulis surat ternyata adalah musuh dalam
selimut bagi mereka.
Aku adalah volk yang berarti rakyat. Aku adalah rakyat yang ingin
berdaulat untuk memanen padi ditanahku sendiri, aku adalah vlok si
rakyat yang tidak ingin tersegmentasi kebijakan licik mereka, aku adalah
volk si rakyat yang ingin pulang setelah mereka pergi dari sini, aku
adalah volk biasa, rakyat biasa yang ingin belajar tanpa sistem kasta
dari mereka..
Dan aku adalah volk si rakyat kurang ajar yang akan mereka asingkan dan penjarakan di pulau sebrang...
Mereka tidak berani menembak mati aku, kematianku hanya akan menyulut
kemarahan pribumi lain yang mengetahui kejadian ini,meskipun tidak tau
siapa volk itu sendiri.
Aku tidak akan menarik pelatuk bedil, meskipun aku mempunyainya aku
tidak akan melakukanya, itu bukan gaya bertarungku.. aku dipenjarakan
dalam penjara paling menjijikan yang mereka punya, lantai kotor tanpa
kakus, tanpa penerangan, tanpa jendela, hanyasekotak lubang dengan
jeruji baja tempatku membuang nafas karena bau menyengat seperti tinja
yang menggangguku.. kadang makanan tidak sampai kesini.
Aku meringkuk kedinginan, hanya celana pendek dan pakaian lusuh tipis
yang kukenakan untuk menahan hawa ini... tanpa kasur dan tanpa alas lain
hanya lantai dingin yang menemaniku menghitung hari...
Tapi bukan frans si Volk jiga tidak memutar otak, kutunggu hari itu,
hari dimana aku akan dibuang. Sudah kutulis pesan melalui morse yang
kupelajari selama di soerabaja. Dengan memukul jeruji itu aku buat pesan
untuk temanku yang mendengarnya dibalikdinding ini..
Hari itu tiba, ikatan ditanganku membuat aku tidak bisa banyak bergerak,
tidak ada pengawalan. Karena memang aku yang berjuang dalam sunyi tidak
banyak dikenal orang, selain tulisan yang kubuat.
Membuat penjajah itu melenggang santai untuk mengasingkanku...
Tapi.. aku tersenyum saat ada dilam mobil yang mengangkutku...
“sudah siap?” tanya dia yang menjadi sopir.
“sudah... aku sudah tidak sabar pulang” jawabku sambil melepas ikatan borgol..
Tidak hanya aku yang berjuang dalam bisu tulisan, dia adalah teman
sejawatku yang membantuku selama ini. Orang pribumi kepercayaan mereka
ternyata juga musuh selain aku yang sudah tertangkap..
Dan aku bisa pulang dengan tenang. Sedangkan mereka si kulit putih? Aku
hanya bisa bilang..”Rasakan!!” saat mereka harus kehilangan satu mobil
pemerintahan untuk digunakan temanku sebagai rampasan..
--
Aku kembali ke rumah, gubug reyot ini membuatku rindu, kupeluk bapak,emak dan ketiga adiku yang mulai jejaka..
Aku berada di pedalaman jawa timur, mereka akan sulit menemukanku ketika menyadari aku tidak akan sampai di tanjung perak...
Tapi semua kemungkinan buruk aku hindari, aku putuskan pindah menuju sunda bersama keluarga...
Dan semua berjalan dengan baiik, volk si rakyat sudah tidak ada, tapi kala itu volk masih hidup, dan bersiap beraksi lagi...
Aku hidup dipelarianku menjadi pedagang di pagi hari dan mengangkat pena di malam hari.
Seperti kebiasaanku dulu.. kusebar tulisan itu selama bertahun-tahun
tanpa imbuhan julukan volk seperti dulu. aku hidup berpindah agar mereka
tidak bisa mendapatkanku.. agar aku bisa terus berjuang dengan caraku
ini.
---
Aku pikir aku sudah menang.. tapi ternyata.. aku salah.
Ketika aku pulang dari berdagang, kubawa hasil jualanku dan beberapa
bahan seperti kertas dan tinta untuk aku menulis, tapi begitu masuk
rumah .... ternyata aku sudah kalah..
Kulihat bapak, emak, dan ketiga adiku terlentang dilantai, darah
mengalir membuat genangan darah yang sangat banyak.. keranjang jualanku
jatuh karena aku yang tertegun dengan pemandangan itu
Sebutir kesemek dari keranjangku menggelinding dan tercelup di genangan darah itu...
Kumelangkah mendekati mereka, terdengar suara nafas bapak, ahhh bapak
masih hidup.. kudekati dia untuk menolongnya.. tapi kusadari satu hal..
jika bapak masih hidup artinya orang yang melakukan ini belum jauh dari
sini, baru sedetik.. baru sedetik pikiran itu terlintas.. kurdengar
bunyi dorrr seperti guntur..
Diiringi suara brukkkk dari aku yang jatuh ke lantai... kalian pernah
tertembak peluru?, kuberitahu rasanya.. awalnya adalah kamu tidak tau
apa yang terjadi, karena begitu cepatnya, kemudian kamu akan jatuh..
akan ada rasa dingin... dingiinnn sekali ditubuhmu, lalu seiring darah
mengucur dari lubang tembakan akan muncul rasa sakit yang luar biasa..
sangat ngilu dan tidak tertahan sampai kamu tidak sadar kamu sudah tidak
bisa merasakan apapun lagi .....
---
Aku sedang kembali melihat masa itu, masa dimana Frans si Volk yang asli
sudah mati, ruhnya sudah pergi ke alam seharusnya tapi aku ingin
tinggal, karena penasaran. Dengan apa yang menjadi cita-citanya yang
sederhana. Yaitu belajar dan bebas...
Aku kemabli di masa seorang yang berusaha untuk sebuah kebebasan, agar anak ayam tidak mati dalam lumbung..
Ironis adalah kalimatnya saat dia melihat adiknya kelaparan di tanah
gemah ripah loh jinawi ini, tanah subur ini seolah tidak bisa ditanami
saat orang asing itu menggerus sumber daya yang ada.
Dia berjuang dalam bisu dan tanpa sepatah kata terucap, dia sudah
berhasil berhasil membuat perubahan walaupun tidak seberapa dengan ilmu
yang tanpa dia pelajari disekolah dia menggerakan inisiatif beberapa
orang untuk lebih masif.
Tapi lonjakan takdir begitu cepat dan anak ayam itu mati dalam lumbung pada akhirnya...
---
Aku kembali, ke masa sekarang,. Masa dimana kamu masih hidup, dan
membaca tulisan ini. Aku bisa dimana saja, mungkin aku sedang ikut
membaca ini disampingmu.kalian tau kan hobiku adalah membaca...
Aku tidak punya alasan lagi untuk disini, sebenarnya aku mau pergi ke
tempatku yang seharusnya, setelah melihat anak-anak bisa belajar,
anak-anak tidak kelaparan, tidak ada orang yang membunuh tanpa dihukum.
Aku sudah cukup puas, walaupun sebagian dari generasi ini
mengecewakanku, tapi aku percaya pada harapanku sendiri untuk kalian....
Waktu itu aku sudah ingin kembali, aku bersiap untuk pulang.. tapi tanpa
sengaja kulihat seorang anak yang mengingatkanku kepada aku..
Kuamati beberapa hari dan ya tidak salah lagi....
Kuputuskan untuk pulang nanti, sekedar melihat dia tumbuh dewasa dari kejauhan ruang dan waktu...
-Anak Ayam Mati dalam Lumbung-
TAMAT
0 komentar:
Posting Komentar