Sudah bukan rahasia buatmu teman, aku menceritakan padamu secara jujur
bahwa demi apapun aku tidak ingin dipisahkan dengan murti! apapun
alasannya..
Bapak.. ibu.. semuanya! Aku tidak peduli sama sekali dengan pengobatan yang mereka tawarkan!
Biarkan aku di justifikasi sebagai orang tidak waras, orang sakit dan
apapun yang mereka sebut tentang aku, kuceritakan padamu dengan huruf
kapital AKU TIDAK PEDULI !!
Mereka bilang aku dinyatakan sembuh saat aku sudah mengakui bahwa Murti
adikku tidak pernah ada. Jika seperti itu biarlah aku terus sakit..
biarkan aku tetap pada kondisiku sekarang yang mereka anggap tidak
waras. Aku tidak mau menenggak obat-obatan itu kalau tujuannya adalah
membunuh murti adiku. Tidak! Tidak akan pernah..
dokter Joko datang sore itu, seperti biasa bapak dan ibu tidak pernah
bilang padaku saat mengundang psikiater itu kerumah untuk mengontrol
kondisi kejiwaanku.. kulihat secara tidak sengaja dari balik jendela
kamar saat mobil berwarna hitam itu masuk pekarangan. Mobil itu berbeda
dari mobil yang terakhir digunakan kesini...
“tipuan lama” gumamku sambil membuka jendela.. aku tidak perlu melihat siapa didalam mobil sedan itu. Bau
antikonvulsan, benzodiazepine, dan
antipsikotik sudah dapat tercium hidungku..
“kita harus kabur mur!, aku tidak mau menghabiskan obat-obatan itu!” pekiku sambil berusaha meloncat dari jendela.
Kurasakan jantungku berdebar sangat hebat, rasa debar ini diakibatkan
akumulasi dari perasaanku dan juga perasaan murti yang sangat ketakutan.
Aku memiliki kenangan buruk soal pengobatan ini, dimana setelah aku
meminum obat-obatan itu aku merasa menjadi orang lain.. bukan lagi
seperti aku.. entah siapa aku setelah meminum obat itu, jika mereka
menganggap aku waras setelah berobat, maka mereka salah.. bagaimana bisa
aku disebut waras jika aku kehilangan diriku sendiri?, sering aku
terpojok dan harus meminum obat itu, dan segera sebelum bereaksi aku
mutahkan kembali di kamar mandi. Begitu terus yang kulakukan. Namun
kelamaan aku jengah juga, dan kali ini memilih kabur!
Aku berhasil keluar melewati jendela, kukunci dulu kamarku untuk
mengelabui orang rumah bahwa aku sedang mengurung diri di kamar..
kuloncati pagar samping dan berlari kencang menuju tempat biasa aku
bersembunyi..
Sarang ... yaa aku akan bersembunyi di sarang! Tidak aku berfikir
panjang tentang bagaimana masalah yang akan aku terima nanti, saat ayah
dan ibuku tau jika aku kabur.. yang terpenting sekarang aku tidak ingin
disentuh oleh dokter jiwa itu!
Aku berlari menyusuri jalanan setapak dan kebun-kebun milik tetanggaku.
Beruntung itu sudah sore dan tak banyak aktifitas di kebun karet itu,
jadi mungkin tidak ada orang yang melihatku menyelinap.. nafasku
tersengal, karena jalanan yang menanjak dan sama sekali tidak kuturunkan
tempo gerak kakiku. Ditambah memang fisiku tidak bagus semakin menambah
rasa lelah diseluruh badan...
Gubug itu sudah terlihat, secepat mungkin kupaksa paru-paruku untuk
mencukupi suplai oksigen yang kubutuhkan untuk aktifitas ini..
“haaahhh... haaaahhhhhh... “ nafasku memburu, keringatku bercucuran. Membuat basah seluruh kaos yang aku pakai..
Kupandang rumahku yang terlihat sangat kecil dari bukit ini. Mereka pasti kebingungan mencariku..
“murti.. kita aman sekarang” kataku sambil meringkuk diatas gubug reot itu..
Dan kebiasaan burukku kambuh lagi..
Depresi.. yaa jika menghadapi persoalan satu ini aku menjadi sangat
depresi, keringat dingin mengucur semakin deras, badanku terasa dingin.
Dan ketakutan, penyesalan, rasa sedih segera menyelimuti hati..membuatku
menggigil seperti orang yang sakaw karena kecanduan narkoba...
“ini semua salahku ... kamu harus kembali dan menuruti perkataan ayah dan ibu nu” kata murti..
“gakk akan mur!!! Gak akan!!!!” teriaku kepadanya, kali ini kontrol diriku sudah tidak terbendung dan mulutku ikut berucap..
“kamu berhak dapet hidup normal nu!” jawab murti lagi..
“kamu gak denger apa!! Aku gak peduli!!” teriaku sambil memukul tiang penyangga gubug itu hingga membuatnya bergetarr....
Tanganku mulai berair karena darah yang muncrat, tidak kuhiraukan rasa
sakit itu, sebaliknya aku malah merasa menikmati rasa nyeri itu..
Kulipat lututku, dan kubenamkan wajahku diatasnya.. lelehan air mata
mulai jatuh.. rasa sakit, takut dan semua emosi membaur membuat suasana
batinku semakin kacau..
Apa benar kata mereka? Apa aku gila? Tapi kenapa aku merasa waras?
Ataukah orang gila itu memang tidak pernah merasa gila? Dan apa orang
gila itu disebut gila karena dia sudah menyimpang dari kewarasan orang
kebanyakan?
Murti terdiam, aku juga demikian. Kami berbagi semuanya. Termasuk rasa sedih ini..
***
Aku merasakan isi saku celanaku bergetar.. ternyata adalah hanphoneku yang terbawa..
“Ayah” ... huhh sudah tau rupanya jika aku kabur.. kumatikan hp itu dan kembali melamun..
Entah berapa lama aku melamun, sampai aku dikagetkan sebuah sentuhan lembut benda berbulu mengagetkanku..
“Dajjal??” aku tidak percaya bahwa yang menyentuhku barusan adalah
kucing hutan yang dibawa pulang oleh putri beberapa minggu lalu.. kucing
hutan bermata satu itu benar-benar jinak dan dia mulai mengusap usapkan
badanya, seperti kucing rumahan..
“putri??” yaa itu adalah putri yang terlihat menuntun sepedanya. Sedang apa diadisini?
“wisnu??.. kaamu kenapa? Ngapain disini? tanganmu kenapa??” kata dia sambilmenyongsongku sambil meraih tanganku yang berdarah..
“putri kamu ngapain disini?”
“diem!.. “ bentaknya kepadaku sambil meraih sapu tangan dari dalam tas kecilnya dan membalutkannya pada tanganku yang berdarah..
“aku kenal kamu nu.. dan aku ini temenmu dan kamu beolah cerita apapun
tentang masalahmu.inshaallah aku bakal jadi pendengar yang baik” ucapnya
dengan lembut sambil menyeka air mata yang membasuh pipiku..
Buru-buru aku seka wajahku dengan lengan kaos, dan kembali berdiam..
“mur, apa ada baiknya?”
“ya, udah kepalang basah.. biar aku nu” jawab murti sambil mengambil alih tubuh ini..
“kamu tentunya udah denger tentang aku kan put?” kata murti membuka obrolan ..
“yaa aku tau tentang kabar mengenai kamu.. lalu kenapa kamu bisa sampai
begini? Aku gak pernah percaya omongan mereka.. menurutku kamu anak yang
baik”
Kuhela nafas panjang dan mulai bercerita
“yaa jika kamu sudah mendengar kabar itu maka kamu harus mulai percaya dengan apa yang mereka bilang .......”
Murti menceritakan semuanya, tentangku, tentang dia tentang semua hal
aneh ini, kehidupan aneh ini, dan kegilaan aneh yang cukup aneh untuk
disandang orang aneh.. murti menceritakan setiap detail dari wisnu
murti. putri terlihat menyimak, sesekali dahinya berkerut samar, tapi
sama sekali dia tidak menginterupsi apa yang murti katakan..
“jadi mulai sekarang kamu harus hati-hati sama aku put.. yang mereka
bilang tentang aku semuanya... semuanya bener” kata murti dengan suara
yang bergetar menahan tangis..
Kupikir putri akan segera pergi begitu mendengar pernyataan murti
ternyata aku salah. Murti menggnggam tangan kiriku dan berucap lembut..
“jadi yang lagi bicara ini murti buka wisnu?” kata dia sambil menatap wajahku..
Murti mengangguk pelan...
“emm.. entah lah murti, wisnu.. wisnu murti.. kalau nama itu ternyata
milik dua orang aku malah seneng... artinya aku punya teman 2 in 1..”
ucapnya dengan tersenyum..
“puttt...”
“aku gak peduli, entah itu kamu murti atau wisnu murti.. aku gak peduli
kata orang, bahkan katamu sendiri.. menurutku semua orang punya hak yang
sama atas sebuah pengakuan.” Kata putri dengan menangkan.
“aku akan selalu jadi temanmu, wisnu murti..jadi teman dari wisnu dan murti” tambahnya dengan tersenyum..
“dan juga si dajjal, kami akan jadi temenmu” kata putri dengan tangan
kiri mermas tanganku, dan tangan satunya mengelus tengkuk si dajjal yang
mulai mendengkur di pangkuannya..
--
Teman kalian tau? Sungguh tutur kata putri yang lembut dan menenangkan
adalah obat mujarab untuk masalahku, jauh lebih ampuh dari obat anti
depresi yang diberikan dr.joko yang katanya mampu menyembuhkanku..
“wisnu.. murti.. kalian harus pulang, apapun yang terjadi di rumahmu
hadapi itu” kata putri sambil menggandengku dan mengajaku berdiri..
Murti mengangguk, sedikit senyum tipis tersungging dibibirku walaupun
tersamar oleh sinar matahari yang mulai meredup ditelan perbukitan di
lembah adikarta ini...
***
Putri menuntun sepedanya, menyusuri jalan yang menurun.. sedangkan
dajjal dengan antengnya duduk didalam keranjang kecil yang ada pada
bagian depan sepeda cewek itu..
“kamu ngapain ke sarang put?” tanya murti yang sudah mulai tenang..
“aku mau nganter dajjal..pulang, ke tempat asalnya. Dia emang ga
seharusnya aku pelihara. Seperti yang kamu bilang dulu.. dia ini
binatang liar, tapi.. yaa kayak yang kamu lihat dia ga mau ditinggal.
Dia selalu ngikutin aku pulang. Udah seminggu ini aku tiap sore kesini”
“mungkin dia pengen kamu pelihara” jawabku
“enggak, dia ingin bebas.. hanya saja mungkin dia kesepian... sama kayak kamu”
**
Teman, pertemuanku dengan putri memang sudah berhasil menghilangkan
perasaan depresiku barusan, dengan kalimat sederhana namun ajaib dia
berhasil membawa semangat baru, mengingatkanku bahwa kini tidak hanya
Murti yang menjadi sahabatku. Melainkan dia.. putri sudah berikrar bahwa
akan selalu menjadi teman kami. Putri juga sudah berhasil membujuku
untuk pulang. Dan menghadapi apa yang harus kuhadapi..
Memang yang dikatakan putri tidak salah, namun juga bukan berarti benar 100%.
Ternyata tidak segampang itu untuk menghadapi sebuah ini.
Ayahku.. beliau menyambutku pulang dengan kemarahan besar..
Sudah sampai pada batas kesabaran beliau menghadapi kami..
Dan malam itu juga, wisnu murti harus berpisah...
Berpisah dengan sekolah...
Berpisah dengan ibu dan nanda....
Berpisah dengan kehidupan dirumah..
Berpisah dengan Dajjal
Dan berpisah dengan putri....
Malam itu juga aku dibawa kesebuah panti rehabilitasi mental dan jiwa..
Sebuah babak baru di hidup kami akan dimulai, babak baru setelah harapan
yang belum lama ditanam oleh putri kini dicabut paksa oleh ayahku..
Merengut hampir semua kebahagiaanku yang tersisa..
Kini aku akan hidup disebuah penjara, yang mungkin akan menjarah semuanya dariku...
0 komentar:
Posting Komentar