Namaku adalah murti. jangan kalian panggil dengan nama depanku, karena
itu adalah milik kakaku. Nama murti hanya bisa kalian gunakan dalam
cerita ini,begitu juga dengan nama Wisnu. Nama Murti bukan nama asliku,
dan aku juga tidak menjamin kalau Wisnu adalah nama asli kakaku, kalian
tanya saja sendiri kepadanya jika betul-betul ingin tau, tapi tentu saja
aku sama sekali tidak yakin kalau dia mau mengatakanya.
Kakaku sudah mengenalkan dirinya, dan sedikit memberikan informasi
tentang aku, tapi aku lebih nyaman jika berkenalan sendiri.. yeaahhhh
ini dia, akhirnya kesempatanku datang juga. Akhirnya aku bisa
mengenalkan diriku sendiri.
Aku adalah Murti, adiknya Wisnu sebenarnya aku tidak yakin siapa yang
lahir lebih dulu hingga tau siapa yang patut dipanggil kakak atau adik,
tapi tidak apalah biar aku disini berperan sebagai adik.
Kami ini kembar, kembar yang aneh. Mungkin kembar paling aneh yang
pernah kalian ketahui. harusnya kami berhak mendapat predikat kembar
terunik didunia. Aku sendiri sampai sekarang tidak tau apakah ada kembar
kembar lain yang senasib dengan kami..
Ahhh sudahlah, aku tidak seperti Wisnu yang memperhatikan hal-hal kecil..
Aku ini benar-benar ada, maksudku aku hidup.. sama seperti kalian, aku
bisa merasakan dan melihat persis seperti kamu, hanya saja aku tidak
bisa disebut manusia.. entah apa aku ini, mahluk apa aku ini. Apakah aku
hanya sebuah kesadaran lain dari Wisnu yang dianggap berkepribadian
ganda?, kalau demikian. maka benar, memang Wisnu itu gila dan aku tidak
pernah ada. Ehhh woyyy! tapi aku ini beneran ada!!
Banyak yang menyangsikan tentang vonis yang ditimpakan kepada kami, maksudku adalah tentang DID (
Dissociative Identity Disorder), karena masih ada pertanyaan apakah Wisnu Murti mengidap DID atau
Skizofrenia?
yaitu gangguan mental dengan gejala halusinasi. Apa? Aku hanya dianggap
halusinasi, oh Tuhan itu sangat menyakitkan. Aku lebih suka disebut
sebuah “kesadaran” dari pada sekedar “delusi”.
Ahh sudahlah, kali ini aku tidak ingin membebani kalian dengan masalah
kesehatan untuk bagian awal ini, lagi pula ini adalah sebuah cerita.
Bukan jurnal imiah, Mungkin di halaman selanjutnya akan dijelaskan lagi
mengenai ini.
Tapi kuyakinkan padamu sekali lagi bahwa aku ini ada, dan hidup !!
Hmmm... sulit juga untuk mengidentifikasi mahluk macam apa aku ini. Sama
sekali aku tidak mencukupi syarat sah untuk disebut mahluk hidup..
Untuk layak disebut manusia aku harus memiliki tubuh, tapi aku hanya memiliki kesadaran.
Dulu aku sering berfikir, apakah aku ini semacam benalu? Yaaa aku benalu
yang hidup menumpang di tubuh kakaku. Kalau aku sedang berfikir begitu
aku pasti akan di bentak Wisnu.
Pernah juga aku mengira bahwa aku ini adalah seorang tahanan. Yaaa aku
tahanan yang terpenjara di dalam tubuh orang lain tanpa ada jalan untuk
bebas. Kalau aku berfikir seperti itu pasti Wisnu akan langsung sedih.
Teman... ini adalah halaman-halaman awal, kami tidak akan langsung
menceritakan kisah sedih kami, setidaknya untuk saat ini kita harus
saling mengenal. ehh Keberatankah kalian jika kupanggil teman??
Bagaimana kalau mulai saat ini kalian kupanggil Teman??
Ahhh kalian memang baik teman, oke kalau begitu aku tidak akan ragu melanjutkan ceritaku.
---
Pagi ini kami berangkat kesekolah, Wisnu sudah mengayuh sepedanya dengan
gamang, sedangkan aku.... aku sedang melihat “dibalik layar” ya seperti
nonton film. Atau berjalan-jalan menggunakan google earth.
Jarak sekolah kami tidak jauh, berada sekitar 3km dari rumah.
Aku tau setiap berangkat sekolah kakaku Wisnu pasti tidak senang, yaa kami memang kadang sulit bersosialisasi.
“kamu tau murti, aku tidak suka sekolah, yaa untuk kita sekolah itu gak
adil’ kata wisnu sambil memelankan laju sepedanya. Aku tau dia
sebenarnya ingin memperlama perjalanan agar terlambat jam masuk dan
dengan alasan gerbang sudah ditutup maka dia akan mengayuh sepeda lagi
untuk pulang kerumah..
Kalau sudah begitu biasanya aku harus turun tangan dengan merebut paksa
kendali tubuh dan dengan ngebut aku menuju ke sekolah sebelum pak prapto
menutup gerbang dan mengusirku untuk ratusan kalinya. Tapi hari itu
masih terlampau pagi, dan nampaknya aku masih punya waktu untuk berdebat
dengan wisnu..
“nggak adil maksudmu?”
“well kamu tau kan, setelah ujian nasional besok kita bakal lulus dan
kita bakal dapet ijazah kan” jawab wisnu dengan nada tidak semangat.
“ya, aku paham itu, trus dimana letak gak adilnya nu?” tanyaku
“karena kita Cuma dapat satu ijazah”
Aku terdiam sejenak, dalam pemikiranku aku juga beranggapan demikian,
hanya ada satu ijazah untuk kami. Bukan untuk wisnu bukan juga untuk
murti, melainkan untuk Wisnu Murti yaitu kami. padahal baik aku dan
wisnu kami sama-sama belajar disekolah, tapi bukan Murti namanya kalau
tidak berhasil membalik omongan Wisnu.
“ya nu, aku rasa memang gak adil” kataku dengan keras.
“nahh, jadi lebih enak kalo sekarang kita puter balik, trus pulang kerumah. Iyakan?” jawab Wisnu yang kali ini sangat semangat.
“jangan putar balik dulu, biar aku selesai ngomong”
“yaelah, omong apa lagi sih mur?”
“ya tentang teorimu tadi, emang gak adil banget kan? Bapak sama ibu
bayar biaya sekolah, keperluan sekolah dan duit jajan itu Cuma buat
seorang, padahal yang sekolah 2 orang lho!!, apa adil tu? Enggak kan?,
trus juga kalo salah satu dari kita lagi males. kan tinggal bolos aja,
dan kita gak perlu takut ketauan karena nomer induk dan absen kita sama,
bahkan nama kita aja disatuin. Gak adil kan? Anak-anak laen mah harus
jungkir balik kalo mau cabut, trus juga nih buat kuliah besok, bapak
sama ibu Cuma bayar kuliah buat seorang aja padahal yang kuliah dua
orang. Kita gak pernah mau terlahir kayak gini tapi bukankah ada sedikit
keuntunganya nu kita begini, dengan begini bapak sama ibu jadi bisa
nabung buat sekolah nanda adik kita juga kan.”
Kurasakan kepalaku bergerak sendiri, membuat gerakan anggukan. Tidak
perlu kusimak bagaimana persaan kakaku ini, anggukan kepalanya sudah
cukup untuk membuatku mengerti, kalau dia mengaku kalah dalam perdebatan
ini..
“oke-oke. Kalo betul yang kamu bilang tadi hari ini aku mau bolos ya!”
kata wisnu sambil mengayuh sepeda dengan lebih kencang, nampaknya dia
mulai semangat lagi.
Secara fisik, dalam kondisi “dibalik layar” ini memang aku tidak bisa
tersenyum. Tapi di pikiranku kubuat senyum itu, meski tanpa aktivitas
fisik.
--
“kamu tau mur? Andai saja Nanda itu tau, kalau dia punya seorang kakak
lagi yang sangat baik.. dan andai bapak sama ibu percaya kalau
sebenarnya mereka punya seorang anak lagi”
Kata wisnu dengan suara menurun..
“apa ini karena kejadian pamitan tadi pagi?” tanyaku
“iya”
Hhmmm.. aku jadi teringat pagi tadi, saat aku berpamitan kepada bapak
dan ibu untuk sekolah, kucium tangan beliau berdua dengan takzim, dan
kepada adik kami yang bernama Nanda kuelus kepalanya sebelum berangkat
tadi.. nampaknya itu adalah hal yang sangat lumrah.. iya kan?? Tapi
tidak bagiku. Wisnu baru saja memancing pembicaraan untuk membahas
perasaanku tadi pagi. Tentunya ia dapat merasakan bagaimana
perasaaanku.. menjadi anak yang tidak diakui....
Sudah bukan rahasia lagi, ketika orang-orang menganggap wisnu itu
sedikit miring, gila, aneh dan kata-kata freak lainnya. Wisnu
beberapakali mendeklarasikan bahwa aku Murti, adik dari Wisnu itu nyata
dan hidup didalam dirinya selayaknya manusia biasa. Tapi tentunya semua
tidak akan percaya, begitu juga bapak, dan ibuku. Malah wisnu sering
kali digiring ke dokter jiwa untuk meluruskan pikirannya tapi wisnu
tidak pernah menerimanya, dia tetapmenganggapku ada dan tidak
memperdulikan vonis dan anjuran dari dokter..
Kalian tau bagian paling menyakitkan? Yaitu Mereka tidak mengakui kalau
aku adalah salah satu bagian dari keluarga ini, lebih ekstrim lagi
mereka menganggap aku tidak pernah ada, dianggapnya aku Cuma bentuk dari
gangguan yang ada dijiwa wisnu..
Aku sering dihibur wisnu, agar jangan bersedih walaupun dia juga tau
bagaimana rasanya, karena saat aku sedih seperti ini dia ikut
merasakanya.. aku menyayangi ayah, ibu. Dan Nanda adik bungsuku sama
seperti wisnu menyayangi mereka. sering kuluapkan rasa sayangku
menggunakan tubuh ini, untuk memeluk mereka.. aku bisa rasakan getir
itu, saat orang yang disayang bahkan tidak tau keberadaanya, meskipun
itu sangat dekat. Seorang anak yang tidak diketahui oleh keluarganya
bahwa dia ada dan hidup, walaupun tanpa raga...
Dalam kondisi “dibalik layar” aku memang tidak bisa menangis, tapi
rasanya memang sedih sekali. Saat kupeluk keluargaku namun rasa sayang
yang mereka itu bukan untuku...
---
Aku tidak menjawab perkataan Wisnu tadi, kugunakan jurus andalanku,
yaitu jurus Diam seribu bahasa. Itu lebih dari cukup untuk membuatnya
paham bahwa aku sedang tidak ingin membalas hal ini.
Gerbang sekolah kami sudah terlihat.. sekolah favorit, salah satu SMA
terbesar dilingkungan kami. Kulihat mereka teman-teman sekolah kami, ehh
maksudku anak-anak lain yang kebetulan sekolah ditempat yang sama
dengan kami.. mereka yang bisa menikmati kenormalan mereka, yang tidak
perlu takut membuka iri tentang siapa dia dan bagaimana hidupnya, tidak
sepertiku yang harus bersembunyi selamanya didalam bayang bayang wisnu.
Wisnu memutar pedal dengan lebih cepat dan meluncur masuk dan langsung
menuju parkiran. Dan belum juga turun dari sepeda kami dikagetkan dengan
sebuah benda yang terlempar dan mengenai kepala kami PYAARRR!!!. Kami
dilempar menggunakan plastik yang diisi air. Entah air apa itu, yang
jels bau. Mungkin air comberan.
Apa ini?? Air? Kami kebasahan. Dan kudengar suara tawa dari beberapa
orang diiringi cacian yang sungguh tidak sopan.. dan saat itu juga tanpa
bicara apapun kepada wisnu langsung kuambil alih kendali tubuh, dan
memutar badan.
“Murti!! jangan!!” seru wisnu.
“aku gak terima nu!! Biar kuhajar meka!”
----
*selamat membaca. happy jumat ganteng. mohon bantuan share jika
berkenan. dan untuk informasi novel 100 tsam akan saya umumkan lewat ig :
@wn.naufal*
0 komentar:
Posting Komentar